Tuesday, 10 March 2026
Friday, 6 March 2026
UNU Blitar Gelar Ngaji Ramadhan, Kupas Keselarasan Tradisi Islam dan Budaya Islam
![]() |
| Ngaji Ramadhan di Kampus 1 UNU Blitar 05/03/2026 (LPM Bhanutirta Tirta) |
Persma Bhanutirta Tirta— Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menggelar kegiatan Ngaji Ramadhan 1447 H bertema "Ngaji Aswaja: Merawat Tradisi, Membangun Peradaban" di Aula Lantai 3 Kampus 1 UNU Blitar, Kamis (5/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan KH. Ma'ruf Khozin sebagai pemateri utama.
Dalam kajiannya, KH. Ma'ruf Khozin menekankan bahwa budaya Jawa dan ajaran Islam sejatinya memiliki keselarasan yang mendalam keduanya hanya berbeda dalam penyebutan dan istilah, bukan pada nilai dan substansinya. Hal ini tampak misalnya pada sistem penanggalan, di mana kalender Jawa dan kalender Hijriyah berjalan di atas fondasi yang sama.
"Kalender Jawa itu tidak lahir dari ruang kosong. Kalau kita telusuri, strukturnya banyak yang selaras dengan penanggalan Hijriyah. Masyarakat Jawa dulu sudah menjalankan nilai-nilai Islam, hanya dengan bahasa dan istilah yang berbeda," ujar KH. Ma'ruf Khozin.
Keselarasan yang sama juga tercermin dalam tradisi yang berkaitan dengan orang yang telah wafat. Membaca Surah Yasin, ziarah kubur, hingga bersedekah atas nama almarhum bukan sekadar kebiasaan turun-temurun melainkan amaliah yang memiliki pijakan dalam ajaran Islam sebagai bentuk doa dan kasih sayang kepada mereka yang telah tiada.
"Ketika kita membacakan Yasin, berdoa, atau bersedekah untuk orang yang sudah meninggal, itu bukan sekadar ritual. Itu adalah bentuk kasih sayang yang kita kirimkan kepada mereka dan Islam mengajarkan bahwa pahala dari amal tersebut bisa sampai kepada yang telah wafat," tambahnya.
Salah satu peserta, Risma, mengungkapkan motivasinya mengikuti kajian tersebut. "Saya mengikuti kegiatan Ngaji Ramadhan ini karena ingin menambah pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran Islam, terutama mengenai amaliah dan tradisi dalam Islam yang memiliki dasar dalil," tuturnya.
Ia mengaku mendapat banyak wawasan baru dari kajian tersebut. "Hal paling berkesan yang saya dapatkan adalah pemahaman bahwa banyak tradisi yang sering dilakukan di masyarakat sebenarnya memiliki dasar dalam ajaran Islam. Hal ini membuat saya semakin menghargai tradisi keagamaan dalam masyarakat, khususnya dalam tradisi Ahlussunnah Wal Jamaah," tambahnya.
Melalui kegiatan ini, pesDian erta diharapkan semakin memahami bahwa tradisi dan budaya lokal yang berkembang di masyarakat bukan sesuatu yang bertentangan dengan Islam, melainkan bagian dari warisan peradaban yang perlu dirawat dan dipahami secara bijak.
Penulis: Dian Khusnul Hanifah
Editor: Nanda Saniaroh
Pasangan Calon BEM UNU Blitar Paparkan Visi Misi dalam Forum Nawa Cita Demokrasi
![]() |
| Penyampaian Visi Misi oleh Calon BEM UNU Blitar 05/03/2026 (Foto LPM Bhanutirta Tirta) |
Acara tersebut menghadirkan pasangan calon Ketua BEM Khabibulloh dan Wakil Ketua BEM Dzakiya. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor 3 yang diwakili, ketua pelaksana kegiatan, serta para peserta yang merupakan calon Ketua HIMA dari berbagai program studi di lingkungan UNU Blitar.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Wahab Firmansyah-Ketua Pelaksana kegiatan serta Sabiq Najibburohman sebagai perwakilan Wakil Rektor 3. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pemaparan visi dan misi oleh pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua BEM, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif bersama para peserta.
Calon Wakil Ketua BEM, Dzakiya, menegaskan komitmennya untuk menjadi penghubung antara mahasiswa dan pihak kampus.
“Kami berkomitmen untuk menjadi penyalur aspirasi para mahasiswa ke kampus, dan jika ada hal-hal yang tidak ditindaklanjuti lebih lanjut oleh kampus, kami siap untuk terus mengawal,” ujarnya.
Sementara itu, calon Ketua BEM, Khabibulloh, menyampaikan bahwa keputusan mereka untuk maju dalam pemilihan BEM didorong oleh banyaknya aspirasi mahasiswa yang dirasa belum terakomodasi dengan baik.
“Ini juga jadi alasan mengapa kami berani maju. Kami sendiri merasakannya keluhan demi keluhan dari teman-teman mahasiswa yang seolah tidak pernah benar-benar didengar. Kami geram, dan kegeraman itu yang mendorong kami untuk bergerak,” ungkapnya.
Wahab Firmansyah menjelaskan bahwa tema yang diangkat bertujuan untuk mendorong munculnya gagasan konkret bagi kemajuan mahasiswa.
“Tema ‘Membedah Langkah Nyata untuk Mahasiswa’ ini kami angkat karena kami ingin semua pihak benar-benar melihat, bukan hanya mendengar apa yang konkret bisa dilakukan untuk mahasiswa. Dan yang tidak kalah penting, kami mengajak seluruh mahasiswa untuk menyambut PEMIRA nanti dengan sportif. Apapun hasilnya, kita junjung bersama demi kampus yang lebih baik,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Sabiq Najibburohman juga menyampaikan apresiasi kepada para mahasiswa yang berani maju sebagai calon pemimpin organisasi mahasiswa di tingkat universitas.
“Saya sangat mengapresiasi calon yang sudah memberanikan diri untuk maju jadi BEM. Saya berharap BEM kita bisa lebih maju lagi,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat lebih mengenal visi, misi, serta komitmen pasangan calon BEM sebelum pelaksanaan Pemilihan Raya Mahasiswa (PEMIRA). Selain itu, forum ini juga menjadi ruang dialog antara calon pemimpin mahasiswa dengan mahasiswa lainnya untuk bersama-sama membangun kampus yang lebih aspiratif dan demokratis.
Penulis: Salma Addina
Editor: Nanda Saniaroh
Thursday, 26 February 2026
Soroti Ketimpangan Sosial! Lapak Baca Ceria Gaungkan Urgensi Kehidupan Masyarakat Tanpa Kelas
![]() |
| Sesi Foto Bersama Diskusi Negara dalam Pandangan Sosialis. ( Foto: Lapak Baca Ceria) |
Persma Bhanu
Tirta - Diskusi Tematik yang diinisiasi oleh
Lapak Baca Ceria berhasil Menyita atensi publik. Mengusung tema “Negara dalam
Pandangan Sosialis", menjadikan forum begitu sesak dengan pemikiran kritis
para peserta, Rabu, (25/02/2026).
Forum dipantik oleh Alex Cahyono, berlokasi di Kedai Kopi Satu Rasa
Kota Blitar. Akibat tingginya antusias peserta, diskusi berlangsung mulai pukul
8 malam hingga pukul setengah 1 dini hari.
Alex memaparkan bahwa memperjuangkan kehidupan masyarakat tanpa kelas merupakan
tujuan mendasar dalam konsep sosialisme.
“Dalam konsep sosialisme, hal pertama yang diperjuangkan ialah kehidupan masyarakat tanpa adanya kelas, mengutamakan kepentingan kolektif, yang kemudian harapannya tidak ada ketimpangan dalam sebuah struktur masyarakat atau negara,” ujarnya dengan penuh penekanan.
Aktivis blitar itu juga menjelaskan bahwa, sosialisme sama halnya
seperti cinta. Selalu indah pada konsep, namun dalam implementasinya banyak
ditemukan kekurangan.
“Seperti cinta, sosialisme ini sangat indah secara konsep, tapi dalam
praktiknya masih banyak ditemukan kelemahan, misalnya uni soviet, pada awal masa
transisi negara, banyak pertumpahan darah dan kemiskinan setidaknya 2 hingga 3
tahun,” tegasnya.
Ali Ma’ruf, salah satu peserta diskusi berpendapat, bahwa lewat forum ini ia
dapat memahami perspektif sosialis melihat kapitalisme dan peran negara. Negara
seharusnya berpihak pada kepentingan kolektif, bukan hanya bersifat netral.
“Jujur, berkat diskusi malam ini saya menjadi paham bagaimana perspektif
sosialis dalam melihat alat-alat produksi dan peran negara, diskusi ini membuka
mata saya bahwa kemiskinan dan ketimpangan itu bukan nasib, tetapi ada sistem
yang mengaturnya,” pungkasnya.
Ia berharap diskusi mengenai literasi politik kedepannya sering diselenggarakan
terutama di blitar. Mengingat, dalam upaya membangun kesadaran kolektif, harus
ada forum-forum yang bersifat santai tetapi mengandung substansi didalamnya.
Penulis:
Fufut Shokhibul
Editor:
Nanda Saniaroh
Monday, 9 February 2026
Negeri yang Menoleh Kuasa, Melupa Cinta
Bersahaja ia melangkah di lorong gelisah
membawa wibawa seolah tak tergoyah
menyampirkan kabar tanpa cermin kaca
ringan di tangan, berat di dada manusia.
Tak pernah terlintas wabah menjelma bara
membakar hari, menyesakkan udara
pilihan demi pilihan terus bersambung
tanpa sanjung, tanpa ujung, hanya menggulung.
Kebijakan berdiri di menara kata
keputusan ditimbang tanpa rasa
tanggung yang dijanjikan kian menjauh
palung masalah makin dalam, tak juga runtuh.
Mengapa seruan manusia tak pernah sampai?
suara berbaris, gugur sebelum usai
bagai angin lalu yang singgah sebentar
padahal beban dipikul punggung-punggung sabar.
Apakah cukup mulut menyulut harapan?
apakah kata sanggup menghapus tekanan?
Tengoklah ke bawah, di sana asa terkulai
digantung lelah, diikat gundah yang usai tak sampai.
Lihat manusia yang kian terhimpit
hari dihabiskan dalam kabut yang sempit
di antara makhluk transparan tak berperi
menelan damai, menggerogoti rezeki.
Sudahilah drama penumbuh angkara
jangan biarkan luka jadi warisan bangsa
bebaskan kembali denyut ekonomi negara
beri ruang bernapas bagi pencari asa.
Sebab, bukankah dulu lantang dikata
di mimbar janji yang penuh cahaya
negeri yang berdiri atas cinta
bukan sekadar kuasa yang lupa rasa.
Penulis: Adha Rizki Saputra




