LPM BHANU TIRTA

Tuesday, 5 May 2026

Mencerdaskan atau Melukai? Sebuah Esai Terhadap Dugaan Kekerasan Seksual di Kampus Hijau

 

Foto: Ilustrasi kolase perempuan yang dirundung kekerasan

Beberapa waktu yang lalu, kita bersama-sama memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai momentum refleksi nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Nilai-nilai tentang pendidikan yang merujuk amanat yang terkandung dalam Undang-undang Dasar (UUD) 45 yaitu: mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun belakang ini, maraknya kasus kekerasan seksual di lingkup pendidikan, sangat bertolak belakang dengan cita-cita awal pendidikan bangsa.

Kasus-kasus kekerasan seksual yang banyak memakan korban, sebagai catatan kelam dunia pendidikan kita, terutama di Perguruan Tinggi yang perlu dibenahi bersama. Lalu selama ini kita merayakan Pendidikan yang semakin maju, atau merayakan pendidikan yang hampir menemui ajalnya?

Berdasarkan data laporan terakhir bulan September 2025, Kementerian Perlidungan Perempuan dan Anak (Kemen PPA) menerima laporan kekerasan yang paling banyak dialami oleh Perempuan dewasa adalah kekerasan fisik sebanyak 656 korban, kemudian kekerasan psikis yaitu 497 korban, lalu disusul kekerasan seksual 281 korban.

Sedangkan Komnas Perempuan mencatat  dalam Catatan Tahunan (Catahu), pengaduan kasus kekerasan seksual di ranah pendidikan sepanjang tahun 2020-2024 terdapat 97 kasus. Kekerasan seksual di perguruan tinggi menempati urutan pertama  sebanyak 42 kasus (43%), pesantren atau pendidikan berbasis agama Islam menempati urutan kedua sebanyak 17 kasus (17,52 %) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 16 kasus (16,49 %).

Komisioner Komnas Perempuan, Devi Rahayu, mengatakan bahwa kasus kekerasan seksual merupakan fenomena gunung es, dimana kasus yang dilaporkan jumlahnya lebih sedikit daripada yang terjadi di lapangan. WHO menyebut, 9 dari 10 korban kekerasan seksual tidak pernah berani melapor, hal ini disebabkan adanya ketimpangan relasi kuasa yang kuat antara pelaku dan korban yang dimana korban memilih diam dan tidak berani melaporkan.

Berbeda dari laporan data yang dimiliki Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) yang jauh lebih tinggi. Dalam laporan 2025 saja, Kemendiktisaintek menerima lebih 800 laporan terkait kekerasan seksual di Perguruan Tinggi. Hal ini diungkapkan oleh Brian Yulianto, Mendiktisaintek dalam wawancaranya bersama beritasatu.com. (18/4/2026).

Data yang diperlihatkan diatas mengisyaratkan bahwa, kasus kekerasan seksual sangat menciderai pendidikan yang menjunjung karakter, khususnya Perguruan Tinggi. Meskipun penyelenggara negara menekan lajunya kasus kekerasan seksual dengan disahkan UU TPKS dan menginstruksikan dibentuknya Satgas PPKS, masih belum menciptakan ruang aman dan nyaman bagi mahasiswa.

Kasus kekerasan seksual bukanlah perkara yang biasa dan dianggap angin lalu. Kekerasan seksual termasuk kejahatan serius. Bayangkan saja ketika seseorang bersekolah tinggi dengan harapan ingin mengangkat derajat keluarganya dan meraih cita-cita setinggi-tingginya, namun ia menjadi korban tindak kekerasan seksual yang membuatnya takut, trauma, dan merasa terganggu sehingga menghambat proses pendidikannya. Tentu hal ini sangat jauh dari nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yakni menjadikan Pendidikan sebagai piranti kemerdekaan.

Lebih ironinya lagi, dalam Catahu 2020-2024 yang dimiliki oleh Komnas Perempuan, pelaku kekerasan seksual di lingkungan Pendidikan, terutama Perguruan Tinggi, salah satunya ialah Dosen. Seseorang yang sangat dihormati dan dipercaya oleh banyak orang. Saya ulangi lagi, pelakunya ialah dosen! Hal ini sangat jauh dari semboyan yang selalu didengungkan oleh Ki Hadjar Dewantara, “Ing Ngarso Sung Tuladha..” ( yang didepan;dosen, memberikan teladan). Lalu teladan apakah yang ditularkan dari seorang oknum pengajar jika ia adalah predator kekerasan seksual?

Bagaimana Kampus Hijau kita?  

Tersiul kabar dugaan di Kampus Hijau yang berakreditasi Baik Sekali ini, tentang tindakan kekerasan seksual yang bertahun-tahun belum terselesaikan. Sejauh ini tidak ada perhatian lebih serius yang dilakukan pihak kampus khususnya satgas PPKS.

Dugaan ini sangat mengganggu proses akademik dan pembelajaran yang dialami oleh mahasiswa bertahun-tahun. Salah satu pelaku Kekerasan Seksual diduga dilakukan oleh oknum dosen. Para korban terus bertambah dan lintas angakatan. Korban dan saksi mengalami ketakutan karena mendapatkan tekanan, intimidasi, hingga pengancaman nilai apabila melakukan hal-hal yang dinilai melawan.

Padahal Kampus Hijau melandaskan nilai-nilai pendidikannya pada ajaran Ahluss Sunnah wal Jamaah An-Nahdliyah dengan mengamalkan ajaran-ajaran Islam Rahmatan lil ‘Aalaminn. Namun dengan diamnya kampus dan tidak ada respons untuk melawan kemunkaran, sama saja mengkhianati terhadap nilai-nilai itu sendiri.

Dengan terbitnya tulisan ini, kami menuntut pihak rektorat mengusutan tuntas dugaan kekerasan seksual yang terjadi didalam lingkungan kampus, mengingat alat dan instrument yang dimiliki kampus dirasa cukup lengkap untuk mengusut dan menindak tegas kasus dugaan ini namun tak melupakan hak-hak perlindungan korban dan saksi menurut peraturan yang berlaku.

Penulis: Bima Dwi Baskara
Editor: Farid

Wednesday, 11 March 2026

Minim Partisipasi, Alarm Demokrasi Kampus UNU Blitar

 

Bukti telah melakukan pemilihan 
(Foto LPM Bhanu Tirta 09/03/2026)

Persma Bhanu Tirta- Regenerasi kepemimpinan menjadi salah satu syarat utama keberlangsungan organisasi. Hal yang sama juga berlaku di lingkungan kampus, di mana organisasi mahasiswa membutuhkan pemimpin untuk menjalankan program sekaligus menjaga dinamika organisasi.

Di kampus, organisasi mahasiswa hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Himpunan Mahasiswa (HIMA), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Ormawa tidak hanya menjadi wadah aktivitas mahasiswa, tetapi juga ruang belajar kepemimpinan, diskusi, serta lahirnya gagasan perubahan. 

Bukankah mahasiswa sering disebut sebagai agen perubahan?

Pemira merupakan proses pemilihan pemimpin organisasi yang kembali diadakan di tahun kedua ini setelah dibekukan tiga tahun lamanya oleh pihak rektorat kampus. Alih-alih seperti bocah berinjak usia 2 tahun yang mulai nampak tumbuh kembangnya, namun sangat berbeda dengan Pemira kali ini. Meskipun bisa dikatakan masih belia, Pemira 2026 kali ini bisa disebut hampir menemui ‘ajalnya’.

Berdasarkan data KPRM, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang terdata oleh Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK) mencapai 1.422 mahasiswa. Namun hanya 219 mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya dengan pembagian jumlah pemilih dari Fakultas Ilmu Pendidikan Sosial (FIPS) 51 suara, Fakultas Ilmu Eksakta (FIE) 74 suara, dan Fakultas Agama Islam (FAI) 94 suara. Angka ini menunjukkan tingkat partisipasi hanya sekitar 15 persen, jauh dari tingkat partisipasi yang sehat dalam demokrasi kampus.

Selain itu, pilihan kandidat calon ketua dan wakil ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) 75% adalah kandidat tunggal dari 17 prodi. Hanya prodi Teknik Mesin, PIAUD, Psikologi Islam, dan Ekonomi Syari’ah yang mengusung kandidat ganda.Namun bukan HMPS saja mengalami banyak kandidat tunggal, hingga sekaliber BEM-U pun berkandidat tunggal.

Fenomena banjir golput juga berkaitan dengan banyaknya kandidat tunggal dalam Pemira. Para kandidat tunggal pun tak bergairah untuk kompetisi dalam “menjajakan” visi-misi nya dalam mencari suara sebanyak-banyaknya. Hal ini cenderung para pemilih pun adalah orang-orang terdekat yang telah mengenal baik. Disisi kandidat, gagasan pun dibuat hanya ‘sekedar’ formalitas. Para pemilih yang benar-benar ‘melek’ politik pun, tak memiliki pilihan alternatif dan pembanding.

Miskinnya bursa kandidat sebagai data bahwa mahasiswa tak minat untuk ambil bagian sebagai ‘nahkoda’ penentu arah gerak organisasi intra. Padahal, kampus memfasilitasi ruang-ruang sosial sebagai ‘laboratorium’ pembelajaran dan pendidikan secara utuh dan menyeluruh melalui pengalaman-pengalaman nyata. 

Organisasi mahasiswa sebenarnya menjadi ruang belajar kepemimpinan, membangun jejaring, serta melatih kemampuan berpikir kritis secara aktif dan kreatif. Mengingat seorang mahasiswa sebagai individu yang terpelajar untuk melakukan praktik baik dalam membawa kehidupan Masyarakat umum yang berkeadilan dan berperan kemajuan bangsa.

Wahab Firmansyah, Ketua KPRM, memberikan pernyataan saat ditemui setelah penghitungan suara. Menurutnya, fenomena banjir golput ditengarai sebab apatis mahasiswa terhadap perpolitikan di lingkungan kampus. 

Sikap acuh tak acuh dan tak mau tahu menyebabkan mahasiswa enggan berpartisipasi menggunakan hak suaranya.” tuturnya.

Perlu diketahui, demokrasi tak bisa berjalan dengan sehat apabila masyarakat yang menjadi tumpuan pengawas kekuasaan dan penentu pengambil kebijakan kolektif, menutup mata terhadap persoalan lalu dimanfaatkan pemimpin yang otoriter.

Sikap apatis juga muncul diakibatkan rasa kekecewaan terhadap kinerja-kinerja pengurus sebelumnya yang tak memiliki dampak dan berefek langsung terhadap keadaan kampus. Namun ditengah kemungkinan-kemungkinan ditengah gelapnya mendung, muncul cahaya asa dan optimis yang disampaikan oleh Indira, mahasiswa prodi Perbankan Syariah semester 4.

Saya berharap pemimpin yang terpilih bisa membawa kampus menjadi lebih baik dan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, tidak hanya ditampung tetapi juga direalisasikan,” ujarnya.

Pemira seharusnya menjadi ruang belajar demokrasi bagi mahasiswa. Namun rendahnya partisipasi dan maraknya kandidat tunggal menunjukkan bahwa demokrasi kampus sedang menghadapi tantangan serius. Jika kondisi ini terus dibiarkan, organisasi mahasiswa berpotensi kehilangan legitimasi sebagai representasi suara mahasiswa. Karena itu, momentum Pemira tahun ini seharusnya menjadi refleksi bersama bagi mahasiswa, penyelenggara Pemira, maupun pihak kampus untuk menghidupkan kembali tradisi demokrasi yang sehat di lingkungan UNU Blitar.

Penulis: Rahmatika Very  'Aghniya, Bima Dwi Baskara.

Editor: Chintya Putri Prasetyaningayu 

Tuesday, 10 March 2026

Mahasiswa UNU Blitar Harapkan Pemimpin Aspiratif dalam Pemira 2026

PEMIRA 2026 di UNU Blitar
(Foto LPM Bhanu Tirta 09/03/2026)


Persma Bhanu Tirta – Pemilihan Raya Mahasiswa (PEMIRA) 2026 Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar dilaksanakan pada Senin, 9 Maret 2026 di Kampus A. Yani UNU Blitar. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menyalurkan hak pilih sekaligus menentukan pemimpin mahasiswa yang diharapkan mampu memperjuangkan aspirasi mereka di lingkungan kampus. 

Salah satu mahasiswa Perbankan Syariah semester 4, Indira, menyampaikan harapannya terhadap pemimpin mahasiswa yang akan terpilih melalui Pemira tahun ini. Ia berharap pemimpin yang terpilih mampu membawa perubahan yang lebih baik bagi kampus serta menjadi wadah bagi mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi. 

Saya berharap pemimpin yang terpilih bisa membawa kampus menjadi lebih baik dan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, tidak hanya ditampung tetapi juga direalisasikan,” ujarnya.

Indira juga menilai bahwa pemimpin mahasiswa harus memiliki integritas serta mampu mendengarkan aspirasi mahasiswa. Selain itu, ia berharap adanya program kerja yang dapat mendukung perkembangan mahasiswa baik di bidang akademik maupun nonakademik. 

Program yang saya harapkan seperti peningkatan fasilitas belajar, pengembangan soft skill, serta kegiatan yang mendukung prestasi akademik dan nonakademik mahasiswa,” tambahnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Ridho Ramadhan, mahasiswa Ilmu Komputer semester 2. Ia berharap pemimpin mahasiswa yang terpilih mampu menjalankan amanah yang telah diberikan oleh mahasiswa dengan penuh tanggung jawab. 

Harapan saya pemimpin yang terpilih bisa menjalankan tugas dengan baik dan menjaga amanah yang sudah diberikan oleh mahasiswa,” katanya. 

Ridho juga menilai bahwa program kerja yang menyentuh langsung kebutuhan mahasiswa perlu menjadi perhatian, salah satunya terkait pencegahan perundungan di lingkungan kampus. 

Salah satu program yang menurut saya penting adalah pencegahan bullying di lingkungan kampus agar mahasiswa merasa lebih aman,” ungkapnya.

Sementara itu, panitia Pemira dari Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM), Wahab, menjelaskan bahwa jumlah mahasiswa yang telah terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) mencapai sekitar 1.500 orang.

Jumlah daftar pemilih tetap yang kami terima sekitar 1.500 mahasiswa yang sudah terdaftar,” jelasnya. 

Ia juga menyampaikan bahwa persiapan pelaksanaan Pemira dilakukan dalam waktu yang cukup singkat, yaitu sekitar tiga hingga empat hari. Meski demikian, pihak panitia berharap kegiatan ini dapat menjadi pengalaman dan pembelajaran bagi mahasiswa.

Persiapan kami sekitar tiga sampai empat hari, mulai Kamis hingga Minggu. Semoga Pemira hari ini bisa menjadi pembelajaran bagi teman-teman mahasiswa, khususnya yang belum pernah mengikuti organisasi, serta menjadi evaluasi agar ke depan bisa lebih baik,” tuturnya. 

Melalui pelaksanaan Pemira ini, diharapkan mahasiswa dapat berpartisipasi aktif dalam menentukan pemimpin mahasiswa yang mampu membawa perubahan positif serta memperjuangkan kepentingan mahasiswa di lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Blitar.

Penulis: Rahmatika Very Aghniya'
Editor: Bima Dwi Baskara 

Friday, 6 March 2026

UNU Blitar Gelar Ngaji Ramadhan, Kupas Keselarasan Tradisi Islam dan Budaya Islam

Ngaji Ramadhan di Kampus 1 UNU Blitar 
05/03/2026 (LPM Bhanutirta Tirta)

Persma Bhanutirta Tirta— Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menggelar kegiatan Ngaji Ramadhan 1447 H bertema "Ngaji Aswaja: Merawat Tradisi, Membangun Peradaban" di Aula Lantai 3 Kampus 1 UNU Blitar, Kamis (5/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan KH. Ma'ruf Khozin sebagai pemateri utama.

Dalam kajiannya, KH. Ma'ruf Khozin menekankan bahwa budaya Jawa dan ajaran Islam sejatinya memiliki keselarasan yang mendalam keduanya hanya berbeda dalam penyebutan dan istilah, bukan pada nilai dan substansinya. Hal ini tampak misalnya pada sistem penanggalan, di mana kalender Jawa dan kalender Hijriyah berjalan di atas fondasi yang sama.

"Kalender Jawa itu tidak lahir dari ruang kosong. Kalau kita telusuri, strukturnya banyak yang selaras dengan penanggalan Hijriyah. Masyarakat Jawa dulu sudah menjalankan nilai-nilai Islam, hanya dengan bahasa dan istilah yang berbeda," ujar KH. Ma'ruf Khozin.

Keselarasan yang sama juga tercermin dalam tradisi yang berkaitan dengan orang yang telah wafat. Membaca Surah Yasin, ziarah kubur, hingga bersedekah atas nama almarhum bukan sekadar kebiasaan turun-temurun melainkan amaliah yang memiliki pijakan dalam ajaran Islam sebagai bentuk doa dan kasih sayang kepada mereka yang telah tiada.

"Ketika kita membacakan Yasin, berdoa, atau bersedekah untuk orang yang sudah meninggal, itu bukan sekadar ritual. Itu adalah bentuk kasih sayang yang kita kirimkan kepada mereka dan Islam mengajarkan bahwa pahala dari amal tersebut bisa sampai kepada yang telah wafat," tambahnya.

Salah satu peserta, Risma, mengungkapkan motivasinya mengikuti kajian tersebut. "Saya mengikuti kegiatan Ngaji Ramadhan ini karena ingin menambah pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran Islam, terutama mengenai amaliah dan tradisi dalam Islam yang memiliki dasar dalil," tuturnya.

Ia mengaku mendapat banyak wawasan baru dari kajian tersebut. "Hal paling berkesan yang saya dapatkan adalah pemahaman bahwa banyak tradisi yang sering dilakukan di masyarakat sebenarnya memiliki dasar dalam ajaran Islam. Hal ini membuat saya semakin menghargai tradisi keagamaan dalam masyarakat, khususnya dalam tradisi Ahlussunnah Wal Jamaah," tambahnya.

Melalui kegiatan ini, pesDian erta diharapkan semakin memahami bahwa tradisi dan budaya lokal yang berkembang di masyarakat bukan sesuatu yang bertentangan dengan Islam, melainkan bagian dari warisan peradaban yang perlu dirawat dan dipahami secara bijak.


Penulis: Dian Khusnul Hanifah

Editor: Nanda Saniaroh

Pasangan Calon BEM UNU Blitar Paparkan Visi Misi dalam Forum Nawa Cita Demokrasi


Penyampaian Visi Misi oleh Calon BEM UNU Blitar 
05/03/2026 (Foto LPM Bhanutirta Tirta)

Persma Bhanu Tirta - Kegiatan Nawa Cita Demokrasi yang diselenggarakan oleh KPRM Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menjadi wadah bagi pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua BEM untuk menyampaikan visi dan misi mereka kepada mahasiswa. Kegiatan ini berlangsung pada 5 Maret 2025 di Kampus 1 Lantai 3 Universitas Nahdlatul Ulama Blitar dengan mengusung tema “Membedah Langkah Nyata untuk Mahasiswa.”

Acara tersebut menghadirkan pasangan calon Ketua BEM Khabibulloh dan Wakil Ketua BEM Dzakiya. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor 3 yang diwakili, ketua pelaksana kegiatan, serta para peserta yang merupakan calon Ketua HIMA dari berbagai program studi di lingkungan UNU Blitar.

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Wahab Firmansyah-Ketua Pelaksana kegiatan serta Sabiq Najibburohman sebagai perwakilan Wakil Rektor 3. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pemaparan visi dan misi oleh pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua BEM, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif bersama para peserta.

Calon Wakil Ketua BEM, Dzakiya, menegaskan komitmennya untuk menjadi penghubung antara mahasiswa dan pihak kampus.

“Kami berkomitmen untuk menjadi penyalur aspirasi para mahasiswa ke kampus, dan jika ada hal-hal yang tidak ditindaklanjuti lebih lanjut oleh kampus, kami siap untuk terus mengawal,” ujarnya.

Sementara itu, calon Ketua BEM, Khabibulloh, menyampaikan bahwa keputusan mereka untuk maju dalam pemilihan BEM didorong oleh banyaknya aspirasi mahasiswa yang dirasa belum terakomodasi dengan baik.

“Ini juga jadi alasan mengapa kami berani maju. Kami sendiri merasakannya keluhan demi keluhan dari teman-teman mahasiswa yang seolah tidak pernah benar-benar didengar. Kami geram, dan kegeraman itu yang mendorong kami untuk bergerak,” ungkapnya.

Wahab Firmansyah menjelaskan bahwa tema yang diangkat bertujuan untuk mendorong munculnya gagasan konkret bagi kemajuan mahasiswa.

“Tema ‘Membedah Langkah Nyata untuk Mahasiswa’ ini kami angkat karena kami ingin semua pihak benar-benar melihat, bukan hanya mendengar  apa yang konkret bisa dilakukan untuk mahasiswa. Dan yang tidak kalah penting, kami mengajak seluruh mahasiswa untuk menyambut PEMIRA nanti dengan sportif. Apapun hasilnya, kita junjung bersama demi kampus yang lebih baik,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sabiq Najibburohman juga menyampaikan apresiasi kepada para mahasiswa yang berani maju sebagai calon pemimpin organisasi mahasiswa di tingkat universitas.

“Saya sangat mengapresiasi calon yang sudah memberanikan diri untuk maju jadi BEM. Saya berharap BEM kita bisa lebih maju lagi,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat lebih mengenal visi, misi, serta komitmen pasangan calon BEM sebelum pelaksanaan Pemilihan Raya Mahasiswa (PEMIRA). Selain itu, forum ini juga menjadi ruang dialog antara calon pemimpin mahasiswa dengan mahasiswa lainnya untuk bersama-sama membangun kampus yang lebih aspiratif dan demokratis.


Penulis: Salma Addina

Editor: Nanda Saniaroh