LPM BHANU TIRTA

Thursday, 26 February 2026

Soroti Ketimpangan Sosial! Lapak Baca Ceria Gaungkan Urgensi Kehidupan Masyarakat Tanpa Kelas

 

Sesi Foto Bersama Diskusi Negara dalam Pandangan Sosialis.
( Foto: Lapak Baca Ceria)


Persma Bhanu Tirta - Diskusi Tematik yang diinisiasi oleh Lapak Baca Ceria berhasil Menyita atensi publik. Mengusung tema “Negara dalam Pandangan Sosialis", menjadikan forum begitu sesak dengan pemikiran kritis para peserta, Rabu, (25/02/2026).

 

Forum dipantik oleh Alex Cahyono, berlokasi di Kedai Kopi Satu Rasa Kota Blitar. Akibat tingginya antusias peserta, diskusi berlangsung mulai pukul 8 malam hingga pukul setengah 1 dini hari.

 

Alex memaparkan bahwa memperjuangkan kehidupan masyarakat tanpa kelas merupakan tujuan mendasar dalam konsep sosialisme.

 

“Dalam konsep sosialisme, hal pertama yang diperjuangkan ialah kehidupan masyarakat tanpa adanya kelas, mengutamakan kepentingan kolektif, yang kemudian harapannya tidak ada ketimpangan dalam sebuah struktur masyarakat atau negara,” ujarnya dengan penuh penekanan.

 

Aktivis blitar itu juga menjelaskan bahwa, sosialisme sama halnya seperti cinta. Selalu indah pada konsep, namun dalam implementasinya banyak ditemukan kekurangan.

 

“Seperti cinta, sosialisme ini sangat indah secara konsep, tapi dalam praktiknya masih banyak ditemukan kelemahan, misalnya uni soviet, pada awal masa transisi negara, banyak pertumpahan darah dan kemiskinan setidaknya 2 hingga 3 tahun,” tegasnya.

 

Ali Ma’ruf, salah satu peserta diskusi berpendapat, bahwa lewat forum ini ia dapat memahami perspektif sosialis melihat kapitalisme dan peran negara. Negara seharusnya berpihak pada kepentingan kolektif, bukan hanya bersifat netral.

 

“Jujur, berkat diskusi malam ini saya menjadi paham bagaimana perspektif sosialis dalam melihat alat-alat produksi dan peran negara, diskusi ini membuka mata saya bahwa kemiskinan dan ketimpangan itu bukan nasib, tetapi ada sistem yang mengaturnya,” pungkasnya.

 

Ia berharap diskusi mengenai literasi politik kedepannya sering diselenggarakan terutama di blitar. Mengingat, dalam upaya membangun kesadaran kolektif, harus ada forum-forum yang bersifat santai tetapi mengandung substansi didalamnya.

 

Penulis: Fufut Shokhibul

Editor: Nanda Saniaroh

Monday, 9 February 2026

Negeri yang Menoleh Kuasa, Melupa Cinta

              

Bersahaja ia melangkah di lorong gelisah

membawa wibawa seolah tak tergoyah

menyampirkan kabar tanpa cermin kaca

ringan di tangan, berat di dada manusia.


Tak pernah terlintas wabah menjelma bara

membakar hari, menyesakkan udara

pilihan demi pilihan terus bersambung

tanpa sanjung, tanpa ujung, hanya menggulung.


Kebijakan berdiri di menara kata

keputusan ditimbang tanpa rasa

tanggung yang dijanjikan kian menjauh

palung masalah makin dalam, tak juga runtuh.


Mengapa seruan manusia tak pernah sampai?

suara berbaris, gugur sebelum usai

bagai angin lalu yang singgah sebentar

padahal beban dipikul punggung-punggung sabar.


Apakah cukup mulut menyulut harapan?

apakah kata sanggup menghapus tekanan?

Tengoklah ke bawah, di sana asa terkulai

digantung lelah, diikat gundah yang usai tak sampai.


Lihat manusia yang kian terhimpit

hari dihabiskan dalam kabut yang sempit

di antara makhluk transparan tak berperi

menelan damai, menggerogoti rezeki.


Sudahilah drama penumbuh angkara

jangan biarkan luka jadi warisan bangsa

bebaskan kembali denyut ekonomi negara

beri ruang bernapas bagi pencari asa.


Sebab, bukankah dulu lantang dikata

di mimbar janji yang penuh cahaya  

negeri yang berdiri atas cinta

bukan sekadar kuasa yang lupa rasa.


Penulis: Adha Rizki Saputra

Wednesday, 28 January 2026

Persimpangan

 

                                            Pinterest


Kita memang berbeda

tak seperti selayaknya; kekasih

Selalu terpisah oleh jarak


Jarak yang memberi,

keahlian saling mengerti

keahlian merawat rindu

dan terbiasa tak bertemu


Hingga pertemuan menjadi petaka

Berpisah di persimpangan

Memilih jalan yang tak sama

Sama-sama masuk ke jalan yang berbeda


Terus jalan,

Melewati banyak belokan

Tikungan, perempatan, dan persimpangan


Hingga pertemuan kedua,

Kita kembali di jalan yang sama

Berpegangan menuju persimpangan

Menata keyakinan, kembali berjalan

Melewati dengan keyakinan


Sempat kita saling pergi

Tapi selalu saling kembali

Di titik ini kita berdiri,

Menghadapi persimpangan lagi


Tak ada janji yang terlalu tinggi

Hanya langkah pelan yang kita pilih

Kadang ragu, kadang ingin berhenti

Tapi tetap berjalan meski tak pasti


Jika nanti persimpangan datang lagi,

Kita tahu, pergi bukan satu-satunya arti

Ada diam yang harus dipahami

Ada tinggal yang harus disadari


Jika akhirnya kita sampai di ujung,

Bukan karena jalan selalu lurus

Tapi karena kita memilih,

Untuk tetap berjalan bersama.


Penulis: Chintya Putri P.

Editor: Nanda Sania

Utuh?

 

                                        Pinterest

Tubuhku lemah,

Ragaku hilang arah

Perasaanku? sudahlah

Diriku sendiri menyerah


Betapa banyak kekosongan,

Yang bahkan merenggut kesadaran

Sungguh, bahkan aku tidak menyadari

Kehilangan arah pun tujuan, diri ini.


Berapa banyak yang harus ku isi?

Berapa banyak yang harus ku ganti?

Agar semua rumpang ini kembali utuh

Agar semua kosong kembali penuh 


Tak terasa hangat nyala api 

Tak terasa hangat rasa dihati

Bukan sengaja aku hingga melupa

Ada raga lain yang tengah berusaha


Tuan, biarkan aku nyalakan hangat ini

Biarlah aku yang berusaha menyakini 

Bahwa raga ini mampu, 

raga ini mau.


Diraihnya hangat itu,

dihidupkan kembali nyala api hangat

Hingga, raga ini mematung sesaat


Hangat.

Tiada dibiarkannya raga ini terlalu mendekat

Meraup segala kekosongan, hingga

aku merasa utuh, juga penuh.


Penulis: Dewi Nur Laila

Editor: Nanda Saniaroh

Wednesday, 31 December 2025

Keluhkan Sumber Air Sulit: Warga Dusun Gambaranyar Andalkan PAMSIMAS Sebagai Solusi

 

Aliran Sungai Bladak di Lereng Gunung Kelud,
28/12/25, (Foto: LPM Bhanu Tirta)

Persma Bhanu Tirta - Bermukim di dataran tinggi khususnya perbukitan membuat warga Dusun Gambaranyar, Desa Sumberasri, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, kesulitan mendapatkan air. Hal ini memicu terjadinya keresahan warga akibat krisis air. Sumber air yang tersedia berada jauh di dalam hutan, tepatnya ada di sebelah timur perkampungan, Minggu, (28/12/2025).

“Itu kan (sumber) sumur resapan ya mas, dari akar-akar pohon yang ada di hutan, jadi untuk kebutuhan desa ya kurang mencukupi" Jelas Kepala Dusun Gambaranyar, Eko Novianto pada 28/12/25.

Letak geografis Dusun Gambaranyar yang berada di dataran tinggi, Lereng Gunung Kelud, membuat sumber air jauh berada di bawah tanah. Sehingga jika melakukan pengeboran sumur, harus membuat lubang yang cukup dalam.

Eko menjelaskan, masyarakat sempat mengeluhkan sulitnya mencari sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan hasil musyawarah pemerintah desa bersama masyarakat, akhirnya pada tahun 2011 terbentuk kelompok Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Masyarakat (PAMSIMAS).

"Masyarakat Desa Sumberasri pernah mendatangi perangkat desa setempat untuk mengeluhkan adanya krisis air mas," Ujar Pria berusia 30-an tersebut.

Pengambilan sumber air oleh PAMSIMAS berasal  dari Sungai Bladak yang berada di sebelah utara candi Gambarwetan. Pengambil air tersebut menggunakan pipa berdiameter 3 inci yang melewati lereng-lereng perbukitan.

Melalui pengairan tersebut, dapat mencakup 3 desa atau sekitar 330 Kepala Keluarga (KK). Sedangkan di Desa Sumberasri sendiri terdapat 120 KK yang terdaftar pada data PAMSIMAS. Mengenai biaya perawatannya, pemerintah desa menggunakan sistem berbayar senilai Rp. 10.000 per-KK dan beberapa menggunakan sistem meteran.

 

Penulis: Neha, Diah, Bahrul, Kana, Laila

Editor: Fufut Shokhibul